Wiro Sableng 212 di Era Millenial 2018

September 25, 2018

Saya mulai berkenalan dengan Wiro Sableng pada saat ruang belajar 5 SD. Tepatnya di lokasi tinggal teman saya yang mempunyai nama Ardian (kelas 4 SD), ia mengawali bisnisnya dengan menyewakan kitab Wiro Sableng. Tak terdapat yang menyangka, bahwa besok sang empunya kedai persewaan kitab tersebut bakal menjadi pendekar digdaya dunia persilatan beraliran bisnis batu akik.

Bermodalkan Rp. 50,- saya bisa berpetualang di dunia persilatan bareng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Pertemuan kesatu memang begitu menggoda. Karakter Wiro Sableng yang konyol, cool, lugu, tetapi sakti dapat mengajak saya guna sejenak melupakan tugas sekolah dan hari-hari yang berat seorang anak era 90-an.

 

ban mobil
ban mobil

 

Menurut ban mobil kelebihan novel Wiro Sableng dikomparasikan dengan novel silat lainnya ialah kekuatan kisah dan karakter tokoh-tokohnya. Bastian Tito paling lihai bermain kata-kata, sampai-sampai pembaca tidak jarang kali rela diseret ke dunia khayalan yang mempesona.

Maka ialah hal yang paling membahagiakan saat saya dapat menyaksikan film-film Wiro Sableng di televisi, baik film layar lebar maupun sinetron. Hanya saja laksana halnya banyak sekali film yang diusung dari novel, film tersebut dirasakan tidak dapat mewakili dunia imaji yang sebelumnya tercipta saat membaca novel.

Trailer yang saya tonton telah lebih dari lumayan untuk menciptakan saya berbahagia sebab mampu bernostalgia ke masa lalu. Hanya saja efek CGI yang masih tampak kasar agak meminimalisir euphoria saya.

Banyaknya kirtik, ejekan dan pesimis semua komentator di Youtube, Facebook, maupun Instagram barangkali tersampaikan pada editor special effect, sebab kekurangan itu tidak terlihat saat saya menontonnya di bioskop. Mungkin telah terlalu tidak sedikit saya mencatat bagian mula review ini, untuk tersebut langsung saja saya akan mengawali review filmnya.

Seperti yang sudah saya kupas di atas, di antara kekuatan novel Wiro Sableng ialah tokoh-tokoh yang paling berkarakter. Dilihat dari pemilihan pemain, dapat dikatakan bahwa nyaris semua karakter bisa terwakili semua pemainnya.

Tim buatan terlihat paling selektif dalam mengerjakan casting. Tentu saja yang sangat menonjol ialah suguhan akting Vino G. Bastian. Kekonyolan atau kesablengan Wiro tampak natural, kesablengan yang tidak terlampau dibuat-buat.

Jalan kisah dan konflik yang lumayan padat dapat membuat menjaga mood pemirsa dari mula hingga akhir. Humor-humor yang diperlihatkan di samping beraroma kekinian pun terasa mengalir tanpa terkesan melulu sekedar tempelan dan pemanis. Kostum mempunyai porsi yang cukup tidak sedikit dalam meningkatkan kekayaan estetika film.

Semua keadaan yang terbangun sangat estetis setiap detailnya. Keremangan hutan, kemegahan istana kerajaan, kesejukan alam, kengerian dusun yang kedatangan perampok, ataupun keceriaan keadaan warung saling berkelindan memanjakan mata saya.

Ada sejumlah tokoh yang barangkali disengaja misterius, di samping terbatasnya durasi, barangkali untuk menyisakan tanda tanya pemirsa sehingga mengejar jawabannya pada sekuel berikutnya. Sebut saja Bidadari Angin Timur yang kemunculannya paling misterius.

Kekurangan film ini menurut keterangan dari saya melulu dua hal. Yang kesatu mencantol plot yang terlampau cepat dan menurut keterangan dari saya melulu ada tidak banyak ruang di mana pemirsa dapat bernafas merasakan suatu moment.

Yang kedua ialah special effect saat menggambarkan istana unsur luar, tidak semaksimal saat memvisualisasikan lokasi-lokasi hutan, tebing, dan lain-lain. Kedua kelemahan tersebut pasti saja bisa dengan gampang terabaikan menilik kelebihan-kelebihan film ini jauh lebih banyak.

Cukup susah untuk memungut point of interest salah satu sekian tidak sedikit unsur — bagian film ini. Aksi laga yang tidak melulu mengandalkan keindahan gerak, namun pun tersalur energi dan emosi. Musik adalah salah satu unsur yang jangan didengar sebelah telinga (awalnya inginkan saya tulis tidak boleh di anggap sebelah mata).

Meskipun beraroma modern, tetapi masih nge-blend dengan nuansa masa kemudian yang hendak dibangun. Grading, musik, dan special effect yang proporsional dapat mengemas semuanya dengan paling rapi. Dan saya yakin, film ini dapat mewakili khayalan para pembacanya, meskipun tidak hingga 100%.

Kesablengan Wiro saat menghadapi musuh ataupun masalah yang serius seakan memberi pilihan sikap anda dalam menghadapi masalah. Di media sosial maupun dunia nyata semakin tidak sedikit orang yang terlampau serius. Lihat saja di beranda Facebook, Twitter, ataupun dunia nyata.

Saat ini seolah semakin membudaya saling menghujat, memfitnah, menyebarkan kebencian, berdebat membicarakan masalah agama, politik ataupun lainnya. Tidak terdapat salahnya anda menurunkan tidak banyak tensi keseriusan tersebut. Agar semakin tidak sedikit tercipta keadaan yang lebih cair, santai, bersahabat, sarat canda, dan damai.

Film ini seakan menyuruh penonton milleneal untuk merasakan film hero ala bule, terselip tidak banyak nuansa mandarin, tetapi semuanya tidak bisa lepas dari drama, laga, budaya, humor, pakaian, dan apapun yang bernuansa Nusantara. Indonesia.